Minggu, 15 April 2012

Fast foods penyebab Depresi

Baru-baru ini sebuah studi menunjukkan bagaimana makanan cepat saji atau fast foods dapat menyebabkan risiko menderita depresi yang lebih besar. Studi ini telah dipublikasikan dalam Public Health Nutrition Journal.

Menurut studi terbaru yang dipimpin oleh ilmuwan dari University of Las Palmas de Gran Canaria dan University of Granada tersebut, makanan panggang komersial (peri kue, croissant, donat, dll) dan makanan cepat saji (hamburger, hotdog dan pizza) dapat menyebabkan depresi. Studi ini diterbitkan dalam jurnal Public Health Nutrition Journal, hasilnya mengungkapkan bahwa konsumen makanan cepat saji, 51% lebih rentan depresi dibandingkan dengan mereka yang jarang atau tidak mengkonsumsi.
 

Mereka juga mempublikasikan adanya dose-response relationship (hubungan sebab akibat. Dengan kata lain bahwa "semakin banyak Anda mengkonsumsi makanan cepat saji, semakin besar risiko terkena depresi," jelas Almudena Sánchez-Villegas, penulis utama dari studi tersebut.
 
Studi ini juga menunjukkan bahwa para peserta yang paling banyak makan makanan cepat saji, roti panggang dan lainnya, cenderung orang yang belum menikah, kurang aktif dan memiliki kebiasaan diet yang buruk, kurang makan buah-buahan, kacang, ikan, sayuran dan minyak zaitun. Banyak dari mereka yang mempunyai kebiasaan merokok dan bekerja lebih dari 45 jam per minggu yang merupakan karakteristik umum dari kelompok ini. "Bahkan memakan sedikit secara signifikan pun dapat berisiko tinggi mengalami depresi," ujar peneliti Canary Islands University.

Dalam sampel penelitian milik Proyek SUN (University of Navarra Diet and Lifestyle Tracking Program). Yang terdiri dari 8.964 peserta yang belum pernah didiagnosis depresi atau mengkonsumsi obat antidepresan. Rata-rata mereka dinilai selama enam bulan, dan 493 peserta didiagnosis menderita depresi atau mulai mengkonsumsi obat antidepresan.
 
Data baru ini mendukung hasil proyek SUN pada tahun 2011, yang diterbitkan dalam jurnal PLoS One. Dalam proyek ini tercatat 657 kasus depresi baru dari 12.059 orang yang dianalisis selama lebih dari enam bulan. Ditemukan peningkatan 42% risiko terkait dengan konsumsi makanan cepat saji.
 
Sánchez-Villegas menyimpulkan bahwa "meskipun penelitian lebih lanjut sangat diperlukan, asupan jenis makanan cepat saji harus dikontrol karena implikasinya terhadap kesehatan (obesitas, penyakit kardiovaskuler) dan kesejahteraan mental."

Sumber : Dailyscience
Foto :  Tomcorsonknowles.com

Tidak ada komentar: